Terapi Okupasi

MEMAHAMI APA ITU TERAPI OKUPASI


Penulis : Gusmila ( Mahasiswa RPL Teknologi Rekayasa Teknik Elektromedik 2024)

Banyak orang bertanya-tanya, apa itu okupasi? Terapi okupasi adalah salah satu perawatan medis yang mampu mengatasi gangguan fisik, emosional, dan sosial. Penyakit yang bisa ditangani dengan tindakan medis ini meliputi patah tulang, kanker, spina bifida, syndrome down, hingga kelumpuhan otak.


Terapi okupasi cenderung berbeda dengan terapi fisik walaupun memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan mobilitas dan mengurangi rasa sakit yang dialami oleh penderita. Berbeda dengan prosedur fisioterapi, jenis terapi ini mengajarkan keterampilan untuk membantu Anda beradaptasi dengan perubahan fisik atau kemampuan.

Terapis dapat menunjukkan cara menggunakan alat bantu untuk membuat pasien lebih mandiri. Terapi okupasi dapat dilakukan oleh anak-anak hingga orang dewasa

Terapi okupasi membantu seseorang yang mempunyai keterbatasan fisik, mental, serta kagnitif menjadi tidak ketergantungan pada orang lain untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Terapi okupasi tersebut dapat membantu seseorang untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri, kemampuan, dan kemandiarian setelah terjadinya dampak pada kesehtan yang menjadi buruk, cedera, atau jika seseorang mengalami kecacatan. Jika kamu mengalami kecelakaan atau suatu penyakit, terapi okupasi dapat membantu pemulihan kamu untuk menjalni kegiatan sehari-hari. Kegiatan sehari-hari tersebut dapat berupa bekerja, bersosialisasi, hingga rekreasi.

Tujuan dan Indikasi Terapi Okupasi


Terapi okupasi bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pasien yang mengalami keterbatasan fisik untuk merawat dirinya sendiri, beraktivitas, maupun bersosialisasi.

Dalam terapi okupasi, pasien akan dilatih untuk beradaptasi dengan kondisi fisik atau penyakit yang dialaminya. Dengan begitu, pasien dapat menjalani kegiatan sehari-hari tanpa banyak membutuhkan bantuan orang lain.

Pelatihan dalam terapi okupasi dapat berbeda-beda, tergantung pada keterbatasan fisik atau kondisi pasien. Beberapa contoh latihan yang bisa dilakukan dalam terapi ini umumnya meliputi:

  • Keterampilan sehari-hari, seperti menyiapkan makanan, berpakaian, atau membersihkan rumah
  • Keterampilan yang dibutuhkan untuk belajar atau bekerja
  • Latihan untuk hobi pasien, misalnya bermain musik, melukis, melakukan kerajinan tangan, atau berolahraga
  • Latihan untuk meningkatkan daya ingat dan konsentrasi
  • Latihan untuk berbicara atau berkomunikasi
  • Modifikasi alat-alat yang diperlukan di rumah atau tempat kerja
  • Penggunaan alat bantu medis, seperti kursi roda

Terapi okupasi dapat dilakukan untuk berbagai kondisi medis yang membatasi pasien dalam menjalani kegiatan sehari-hari meliputi:

Jenis Okupasi Terapi

Okupasi terapi meliputi :
  1. Sensori integrasi merupakan tindakan/treatment yang akan membantu memperbaiki fungsi sensori seperti peabaan (tactile), keseimbangan (vestibular), persendian (proprioceptif), penegcapan (olfactory), penciuman (gustatori), penglihatan (visual), dan pendengaran (auditory) agar mampu beradaptasi dengan lingkungan dan memperbaiki atensi dan konsentrasipada anak.
  2. Terapi Perilaku (behavior therapy) merupakan tindakan/treadment yang diberikan untuk memperbaiki perilaku atau kontrol diri agar anak dapat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.
  3. Sensory Retraining merupakan tindakan/ treatment guna melatih kemampuan sensori yang hilang atau berkurang dikarenakan injury penyakit seperti kehilangan fungsi raba.

Bagaiman Terapi Okupasi Dilakukan ?

Pelaksanaan terapi okupasi tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pasien yang hendak menjalni terapi tersebut. Sebab  terapi ini bertujua untuk membantu pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan lancar dan mandiri.

Setelah menentukan jenis terapi, dokter atau terapis akan berbicara secara terbuka dengan pasien untuk memenuhi kebutuhannya. Kondisi ini mencakup beberapa hal, seperti makan, berpakaian, dan berjalan.

Perawatan terapi juga mampu meningkatkan mobilitas pasien dengan menggunakan alat bantu berupa tongkat jalan atau kursi roda. Bukan hanya ahli medis profesional saja, tetapi anggota keluarga juga perlu ikut serta dalam prosedur terapi. Hal ini bermanfaat untuk mempercepat proses pemulihan dari cedera jangka panjang dan memenuhi kebutuhan psikologis pasien secara optimal.

Umumnya, sesi terapi berlangsung sekitar 30-60 menit, tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi kesehatan pasien. Pada kebanyakan kasus, pasien dapat menghadiri sesi terapi sebanyak 1-3 kali dalam seminggu untuk mempercepat proses pemulihan.

Terapi okupasi untuk anak dan orang dewasa cenderung berbeda. Ahli medis profesional sering kali melibatkan permainan untuk membuat anak tetap terlibat selama sesi terapi.

Terapi pada anak telah terbukti membantu mereka dalam mengelola ketidakmampuan belajar, kondisi neurologis (autisme dan ADHD), dan cedera olahraga. Sebagai orang tua, Anda dapat melihat anak mulai tumbuh dan berkembang pesat saat mereka belajar bersama dengan terapi.

Adakah Efek Samping dari Terapi okupasi ?

Terapi okupasi sebenarnya merupakan prosedur yang aman dilakukan dan minim efek samping. Meski begitu, ada pula beberapa pasien yang mengalami keluhan seperti nyeri oot, sakit pada dada, dan merasa kebingungan setelah meenjalani terapi.


Di Mana Melakukan Terapi okupasi ?

Terapi okupasi tak harus dilakukan di rumah sakit, sebab terapi ini bisa dilakukan di rumah atau lingkungan yang diinginkan pasien tetap didampingi oleh dokter dan tenaga medis lainnya. Misalnya di tempat kerja, sekolah, atau rumah. Meski begitu, kebanyakan terapi okupasi memang lebih sering dilakukan di rumah sakit.

Okupasi Terapi Menangani Berbagai Keterampilan, diantaranya :

  1. Merawt diri sendiri, seperti toilet training, memakai baju, menggosok gigi, menyisir rambut
  2. Kemampuan motorik halus seperti kemampuan memegang pensil
  3. Kemampuan metorik kasar, seperti berjalan, menaiki tangga, atau naik sepeda
  4. Kemampuan persepsi, seperti membedakan warna, bentuk dan ukuran besar kecil
  5. Kepekaan tubuh terhadap diri sendiri, seperti rambut menempel di kepala atau lengan ada di samping badan bagian atas
  6. Kemapuan visual untuk membaca dan menulis

Cara Melakukan Terapi okupasi Secara Mandiri

Setelah dilakukan identifikasi kesulitan yang dihadapi seseorang dengan tugas sehari-hari, salah satu cara yang dapat kamu lakukan untuk melakukan terai okupasi secara mandiri adalah :
  • Melatih aktivitas dalam tahap yang dapat dikelola
  • Melatih cara yang berbeda untuk meyelesaikan aktivitas sehari-hari
  • Merekomendasikan perubahan yang akan membuat aktivitas lebih mudah
  • Menyediakan perangkat yang membuat kegiatan sehari-hari lebih mudah.


Referensi:
https://www.halodoc.com/kesehatan/terapi-okupasi?srsltid=AfmBOorCRH-7pcIBc-vome4hipkCEGjegrnE7SHXLT2-92FGyK9DMfgB
https://www.halodoc.com/artikel/siapa-yang-membutuhkan-terapi-okupasi
https://www.halodoc.com/artikel/4-cara-melakukan-terapi-okupasi-secara-mandiri
https://www.halodoc.com/artikel/kenapa-terapi-okupasi-harus-dilakukan
https://www.alodokter.com/lumpuh-otak
https://ciputrahospital.com/terapi-okupasi/#Prosedur_Terapi_Okupasi





Komentar

Posting Komentar